Selasa, 27 Mei 2014

#StoryOfMyLife

"Tinggal 3 hari lagi, gila aja lo"

"Heh, elo sarap?? Elo gila? Mau bikin nyokap bokap lo mati dadakan hah?"

"Sakit jiwa lo!!"

Yup, kesalahan bukan pada mata anda karna membaca teks cacian dan makian itu. Ya, itu adalah sebagian kecil balasan sms or chat teman2 ketika tau saya ingin membatalkan acara pernikahan saya yang notabene akan berlangsung 3 hari dari sekarang yaitu hari sabtu tgl 31 mei 2014. Apa saya gila?? Bisa di bilang begitu..

Awalnya, saya dan calon pasangan saya ini di perkenalkan dari indahnya dunia masa kecil. Yup, dia teman sepermainan saya. Kakak kelas dikala junior high school lah statusnya ketika memacari saya untuk pertama kalinya. Anaknya baik, penyayang, manja dan sedikit bandel di sekolah kala itu. Beranjak SMA kami masih menjalin hubungan. Dan hebatnya orangtua kita masing-masing tidak mengetahui nya. Ahh sudahlah, aku anggap itu cinta monyet. 
Saat dia kuliah, saya masih di bangku SMA.. Terlintas bosan di kepala saya menjalin hubungan dengannya,dan nampaknya dia juga merasakan hal yang sama. Kita membohongi satu sama lain tanpa ada yang berani untuk memproklamirkan "putus" terlebih dahulu. Puncaknya kita sama-sama bisan lah!! 

Secara pribadi, dia sangat mengenal sifat,watak dan kebiasaan saya. Dan begitupun sebaliknya. Namun bedanya saya terbiasa terbuka tapi dia cenderung bersifat tertutup atau lebih tepatnya banyak menutupi hal-hal yg ingin saya ketahui. Sebagai wanita normal dengan tingkat perasaan yang tinggi saya terbakar api "cemburu". Yup, saya sangat sangat cemburu. Wajar kah? Wajar, dia masih pacarku!! 

Kalau ada yg bertanya saya sudah mengalami lika liku kehidupan, perasaan, airmata, tawa bahagia dengannya itu benar. Karna terhitung masa pacaran saya dengannya adalah 10 tahun!! Wow, fantastis bukan??

Tapi, ketika dia melamar saya dengan alasan orangtuanya menuntut untuk segera mempunyai pendamping hidup sebelum mereka menunaikan ibadah haji sejujurnya membuat saya menjadi jengah.. Sangat sangat jengah! Pasalnya, saya belum siap untuk menyandang status "nyonya". Saya ingin menjadi wanita bebas sampai saya menginginkan sendiri menjadi seorang wanita seutuhnya.

Tapi hati dan mulut serta kepala tidak sinkron untuk menjawab. "Saya meng-iya kan lamarannya" bukan semata2 karna dia dan orangtuanya tetapi karna orangtua saya sudah ingin memiliki cucu! Duh, ini lebih gawat !! 

Dengan berbagai pemikiran dan pertimbangan akhirnya terpilihlah tgl 31 mei 2014 yang insya allah akad serta resepsinya di lakukan di hari yang sama di daerah sentul city di salahsatu masjidnya yang terkenal. Tapi bahagiakah  saya??? Kalian boleh bilang saya gila "saya tidak bahagia"


"Ah tapi ko lo excited banget si ngurus acara pernikahan lo??"

 Yupp itu pertanyaan paling menohok saya, karna memang saya yg mengurus sampai hal sekecil-kecil nya. "Katanya ga bahagia, tapi ko ngurusin??" Iyaa, karna saya adalah wanita yg ingin merasa sempurna begitu pun di hari "BAHAGIA" saya menurut mata keluarga dan kerabat. Tapi mana tau mereka tentang hati saya?? 


Hubungan saya dan calon suami terbilang makin kaku, hambar, dan cuma mengalir seperti air.. Saya dengan dunia saya dan dia dengan dunianya.

Kenapa kita tetap  memilih melanjutkan hubungannya kalau sama sama tidak suka?? Sekali lagi faktornya karna orangtua dan prinsip nya calon suami saya yg mengatakan "jika sudah satu atap, satu kamar, satu tempat tidur kita akan lebih memahami lebih jauh masing-masing kita" yaa itu adalah teori nya,bukan teori saya!! Karna dia lupa kalo kitaa tidak lagi "satu hati" ..

Well, sebentar lagi saya akan memulai hidup dengan hati sebelah, perasaan tidak tulus, kedok munafik, dan kepura puraan yang hakiki. 

Dan bodohnya saya adalah baru ingin membatalkan setelah semua undangan tersebar dan semua persiapan matang. 

Inilah hidup saya, penyesalan saya.... 
Wahai calon suami ku, maafkan aku karna aku tidak seperti dulu, seperti apa mau mu :(