Mengapa?? Sekedar info, saya berpacaran dengan laki laki yg menjadi suami saya ini +- 9 tahun. Kaget? Ga perlu lah yaa, saya saja sampai berfikir ini pacaran atau KPR perumahan? ππ
Masa pacaran kita adalah masa dimana masing masing dari kita tumbuh dewasa. Walaupun usia kita tidak terpaut jauh hanya 3 tahun, tapi saya merasa pemikiran kami saling tumpang tindih. Tidak sinkron, gak ber Yin-Yang, terlalu banyak perbedaan yg setiap detik pun dapat di perdebatkan. Berantem hebat? Wuuihh seriiing ga usah di tanya. Saya pun tak menampik adanya keegoisan dalam diri saya yang bisa mematik api perdebatan.
Tapi di luar dari pada itu, entah mengapa malah tercetus rencana pernikahan. Apa saya menyesal?? Jawabannya adalah SANGAT. Saya sangat menyayangkan masa transisi saya. Saya mengorbankan hati saya. Saya merelakan jiwa raga, tenaga, airmata demi sebuah pernikahan yg saya sendiri tidak tahu apakah membuat saya bahagia.
Suami ku type lelaki penyayang, iya saya akui itu. Tapi suami saya tidak bisa menempatkan fungsi saya sebagai istri di dalam pondasi keluarganya. Sering sekali hati saya hancur berkeping2, sering saya dibuat menangis tiap malam. Entah saya yang terlampaui sensitif atau dia yg tidak tau cara memperlakukan istri. Saya merasa salah jalan memilih untuk berkeluarga dengannya.
Ini rumah tangga saya.. Berwarnakah?? Tidak!! Saya yg membahagiakan hati saya sendiri. Saya hanya melihat kedua orangtua saya dan ibu suami saya. Kalau bukan karna mereka saya sudah mengejar apa yg semustinya saya dapat bukan dengan memilih jalan dengannya.
Wahai suamiku.. Hidupmu adalah hidupmu.. Tetaplah hidupmu. Ingat lah satu, aku ini istrimu, istri yg seharusnya banyak kau ajarkan, istri yang seharusnya kau ayomi, kau jaga perasaannya, kau kuatkan hatinya, kau warnai harinya. Aku sadar akan kodratku, ridhomu ialah ridho sang Ilahi rabbi. Biarlah hati ini tidak menemukan penenang raganya. Biarlah jiwa ini menjadi topeng penutup perihnya rasa. Jika menjadi istrimu tak seindah kehidupan novel yang kubaca, tak sewarna sinetron yg popular. Biarlah aku rela.
Ini kan Rumah Tangga, bukan Rumah si Tetangga.. π
From
Istrimu





