Pernikahan itu adalah bertemunya 2 sejoli, Adam dan Hawa, Rama dan Shinta, Romeo dan Juliet, Lelaki dan Perempuan, dan banyak pertemuan pertemuan lainnya yang tidak bisa saya perjelaskan satu per satu yang saling mencintai, membutuhkan, mengasihi, yg dalam janjinya akan bersama saat suka maupun duka. Janji yanng di ikrar kan di depan penghulu, orang tua , sanak saudara dan rekan rekan. Janji sakral sebuah pernikahan yang entah dari mana sisi nya bisa membuat siapapun yang mendengarkannya terharu biru dibuatnya. Sebenarnya apa alasan 2 pasang insan manusia memutuskan untuk menikah?? Keturunan? Kelengkapan hidup? Biar ga dibilang "gak laku"? Umur? Paksaan orangtua? Merasa sudah cocok dan untuk menghindari zina?? Apapun alasan seseorang berani memutuskan menikah dalam hidup nya adalah sebuah komitmen berat dan harus penuh rasa tanggung jawab menjalankannya. Mereka berfikir dengan menikah hidup akan lebih bahagia,punya teman suka dan duka,punya teman pengusir sepi dan rindu atau malah cuma karna ingin punya teman berbagi tempat tidur?
Well, apapun itu hal yang terlewat manis di janjikan di awal belum tentu akhirnya berjalan semanis skenario kita. Hidup memang pilihan. Memilih untuk tidak menikah juga itu adalah sebuah pilihan!! Tapi balik lagi kepada takdir tuhan. Allah maha tau aapa yg terbaik untuk umatnya.
Sejatinya sebuah pernikahan adalah cikal bakal proses pengabdian seorang istri pada suaminya. Patuh dan taat itu sudah menjadi kodratnya. Mau kemana-mana izin suami, tanya suami. Begitu juga suami, sudah harus menafkahi istri dan anak-anaknya, tanggung jawab lebih banyak. Karna perlu anda ketahui, lelaki lah tiangnya keluarga. Di pundak dan langkah lelaki lah kemana keluarga itu dan bagaimana keluarga itu berdiri.
-•-
Disini lah aku malam ini, memikirkan tentang jalan hidupku. Sebuah pernikahan di depan mata yang aku sendiri yang memilihnya. Bukan hatinya, tapi jiwanya. Hati dan kedalamnya hatiku bukan dia perebutnya. Aku bersandar pada tembok kamar yang dingin juga lembab. Bercerita tentang galau nya aku pada setiap jengkal dinding kamar kecilku. Menulis, mencoret, tertawa, menangis lalu tertawa lagi seperti orang hilang kendali. Aku akan menikah. Bahagiakah aku??
-•-
Layaknya orang yang ingin menikah harusnya bersuka cita, tapi tidak bagiku. Aku menikah karna keadaan, aku menikah karna memang sudah waktunya aku menikah. Apa mempelaiku bisa dikatakan itu jodohku?? Jodoh yang katanya temanku cocok untuk ku, mengerti ku, menyayangku, mencintaku. Apa aku tau?? Atau aku yang acuh dan tidak mau tau?
Iya, mempelaiku. Elok rupa nya, tutur bahasanya, cermat sikapnya, halus hatinya. Cukup kah itu bagiku? Bagian mana yang ku dustakan?
Taapi apa ada yang bertanya padaku, "Merasakah aku"?? Merasakah aku itu semua apa yang kusebutkan tadi??
-•-
Bibir ku kelu, terkata iya terkata tidak!! Sekali lagi haruskah ku pertegas arti pernikahan kita?? Aku dan kamu hanya menikah dengan jiwa. Aku tetap hadir menemanimu di malam malam lelahmu. Aku merapihkan bajumu, aku menyiapkan makanmu, aku menjalani hariku melayani mu. Ya melayani jiwamu. Jangan pernah kau hatap hati ku. Hatiku sudah terkekang puluhan tahun lamanya. Hatiku mati rasa. Hatiku tak mau ada conta. Hatiku tak ingin merasakan apa apa. Aku, yang hatinya sudah direnggut ksatria ber-Kharisma, seorang Patih Majapahit, seorang cucu Adam. Hatiku melayang meninggalkan si empunya. Akupun tak tahu kemana perginya..
Duhai suami, inilah Jiwa ku.. Hanya Jiwaku.. Menikahlah dengan aapa adanya jiwaku..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar