Senin, 21 Juli 2014

Ini Rumah Tangga, bukan Rumah Tetangga

Saya, wanita berusia twenty something.. Sudah berumah tangga yg baru berusia menginjak 2 bulan masa pernikahan. Memiliki riwayat membuat pesta pernikahan megah dengan harus mengocek kantong yg tidak sedikit pula. Niat hati agar terbawa masa mengenang di pelaminan sampai memasuki fase indahnya merajut mahligai rumah tangga. Ahhh apa itu yg orang-orang doa kan?? Menjadi keluarga sakinah mawadah warrahmah?? To be honest, itu di luar harapanku.

Mengapa?? Sekedar info, saya berpacaran dengan laki laki yg menjadi suami saya ini +- 9 tahun. Kaget? Ga perlu lah yaa, saya saja sampai berfikir ini pacaran atau KPR perumahan? 😓😆

Masa pacaran kita adalah masa dimana masing masing dari kita tumbuh dewasa. Walaupun usia kita tidak terpaut jauh hanya 3 tahun, tapi saya merasa pemikiran kami saling tumpang tindih. Tidak sinkron, gak ber Yin-Yang, terlalu banyak perbedaan yg setiap detik pun dapat di perdebatkan. Berantem hebat? Wuuihh seriiing ga usah di tanya. Saya pun tak menampik adanya keegoisan dalam diri saya yang bisa mematik api perdebatan. 

Tapi di luar dari pada itu, entah mengapa malah tercetus rencana pernikahan. Apa saya menyesal?? Jawabannya adalah SANGAT.  Saya sangat menyayangkan masa transisi saya. Saya mengorbankan hati saya. Saya merelakan jiwa raga, tenaga, airmata demi sebuah pernikahan yg saya sendiri tidak tahu apakah membuat saya bahagia.

Suami ku type lelaki penyayang, iya saya akui itu. Tapi suami saya tidak bisa menempatkan fungsi saya sebagai istri di dalam pondasi keluarganya. Sering sekali hati saya hancur berkeping2, sering saya dibuat menangis tiap malam. Entah saya yang terlampaui sensitif atau dia yg tidak tau cara memperlakukan istri. Saya merasa salah jalan memilih untuk berkeluarga dengannya. 

Ini rumah tangga saya.. Berwarnakah?? Tidak!! Saya yg membahagiakan hati saya sendiri. Saya hanya melihat kedua orangtua saya dan ibu suami saya. Kalau bukan karna mereka saya sudah mengejar apa yg semustinya saya dapat bukan dengan memilih jalan dengannya. 

Wahai suamiku.. Hidupmu adalah hidupmu.. Tetaplah hidupmu. Ingat lah satu, aku ini istrimu, istri yg seharusnya banyak kau ajarkan, istri yang seharusnya kau ayomi, kau jaga perasaannya, kau kuatkan hatinya, kau warnai harinya. Aku sadar akan kodratku, ridhomu ialah ridho sang Ilahi rabbi. Biarlah hati ini tidak menemukan penenang raganya. Biarlah jiwa ini menjadi topeng penutup perihnya rasa. Jika menjadi istrimu tak seindah kehidupan novel yang kubaca, tak sewarna sinetron yg popular. Biarlah aku rela. 
Ini kan Rumah Tangga, bukan Rumah si Tetangga.. 😄


From
Istrimu 

Sabtu, 07 Juni 2014

I'm a wife ??

Yaaa.. Adalah benar jika saya ini adalah seorang istri. Istri yg pada kodratnya harus patuh terhadap suami. Istri yang melayani suami baik lahir maupun bathin.. Ya, disinilah saya sekarang. Saya terpuruk karna pilihan.

Dosakah saya jika saya berucap "aku tak rasakan bahagia!" Bertanyakah suami ku akan kebahagiaan ku? Pedulikah ia akan getirnya jiwaku?.. Aahhh bukan seperti itu tipe suamiku!!

Ayah, ibu, kalianlah penyebab aq bertahan akan luka hati ku. Hati yang sudah tercabik-cabik oleh janji manisnya rumah tangga. Aq layaknya gadis seusiaku yang masih merasakan indahnya dunia kesendirian. Yaa, statusku memang istri tapi hatiku masih sendiri. Sendiri menjemput bahagia perasaan yang ingin kualami sendiri.. Ibu, doakan anakmu bahagia dengan apapun yang kau lihat nanti, apapaun yang bisa kau bantu rasakan kini.. 

Selasa, 27 Mei 2014

#StoryOfMyLife

"Tinggal 3 hari lagi, gila aja lo"

"Heh, elo sarap?? Elo gila? Mau bikin nyokap bokap lo mati dadakan hah?"

"Sakit jiwa lo!!"

Yup, kesalahan bukan pada mata anda karna membaca teks cacian dan makian itu. Ya, itu adalah sebagian kecil balasan sms or chat teman2 ketika tau saya ingin membatalkan acara pernikahan saya yang notabene akan berlangsung 3 hari dari sekarang yaitu hari sabtu tgl 31 mei 2014. Apa saya gila?? Bisa di bilang begitu..

Awalnya, saya dan calon pasangan saya ini di perkenalkan dari indahnya dunia masa kecil. Yup, dia teman sepermainan saya. Kakak kelas dikala junior high school lah statusnya ketika memacari saya untuk pertama kalinya. Anaknya baik, penyayang, manja dan sedikit bandel di sekolah kala itu. Beranjak SMA kami masih menjalin hubungan. Dan hebatnya orangtua kita masing-masing tidak mengetahui nya. Ahh sudahlah, aku anggap itu cinta monyet. 
Saat dia kuliah, saya masih di bangku SMA.. Terlintas bosan di kepala saya menjalin hubungan dengannya,dan nampaknya dia juga merasakan hal yang sama. Kita membohongi satu sama lain tanpa ada yang berani untuk memproklamirkan "putus" terlebih dahulu. Puncaknya kita sama-sama bisan lah!! 

Secara pribadi, dia sangat mengenal sifat,watak dan kebiasaan saya. Dan begitupun sebaliknya. Namun bedanya saya terbiasa terbuka tapi dia cenderung bersifat tertutup atau lebih tepatnya banyak menutupi hal-hal yg ingin saya ketahui. Sebagai wanita normal dengan tingkat perasaan yang tinggi saya terbakar api "cemburu". Yup, saya sangat sangat cemburu. Wajar kah? Wajar, dia masih pacarku!! 

Kalau ada yg bertanya saya sudah mengalami lika liku kehidupan, perasaan, airmata, tawa bahagia dengannya itu benar. Karna terhitung masa pacaran saya dengannya adalah 10 tahun!! Wow, fantastis bukan??

Tapi, ketika dia melamar saya dengan alasan orangtuanya menuntut untuk segera mempunyai pendamping hidup sebelum mereka menunaikan ibadah haji sejujurnya membuat saya menjadi jengah.. Sangat sangat jengah! Pasalnya, saya belum siap untuk menyandang status "nyonya". Saya ingin menjadi wanita bebas sampai saya menginginkan sendiri menjadi seorang wanita seutuhnya.

Tapi hati dan mulut serta kepala tidak sinkron untuk menjawab. "Saya meng-iya kan lamarannya" bukan semata2 karna dia dan orangtuanya tetapi karna orangtua saya sudah ingin memiliki cucu! Duh, ini lebih gawat !! 

Dengan berbagai pemikiran dan pertimbangan akhirnya terpilihlah tgl 31 mei 2014 yang insya allah akad serta resepsinya di lakukan di hari yang sama di daerah sentul city di salahsatu masjidnya yang terkenal. Tapi bahagiakah  saya??? Kalian boleh bilang saya gila "saya tidak bahagia"


"Ah tapi ko lo excited banget si ngurus acara pernikahan lo??"

 Yupp itu pertanyaan paling menohok saya, karna memang saya yg mengurus sampai hal sekecil-kecil nya. "Katanya ga bahagia, tapi ko ngurusin??" Iyaa, karna saya adalah wanita yg ingin merasa sempurna begitu pun di hari "BAHAGIA" saya menurut mata keluarga dan kerabat. Tapi mana tau mereka tentang hati saya?? 


Hubungan saya dan calon suami terbilang makin kaku, hambar, dan cuma mengalir seperti air.. Saya dengan dunia saya dan dia dengan dunianya.

Kenapa kita tetap  memilih melanjutkan hubungannya kalau sama sama tidak suka?? Sekali lagi faktornya karna orangtua dan prinsip nya calon suami saya yg mengatakan "jika sudah satu atap, satu kamar, satu tempat tidur kita akan lebih memahami lebih jauh masing-masing kita" yaa itu adalah teori nya,bukan teori saya!! Karna dia lupa kalo kitaa tidak lagi "satu hati" ..

Well, sebentar lagi saya akan memulai hidup dengan hati sebelah, perasaan tidak tulus, kedok munafik, dan kepura puraan yang hakiki. 

Dan bodohnya saya adalah baru ingin membatalkan setelah semua undangan tersebar dan semua persiapan matang. 

Inilah hidup saya, penyesalan saya.... 
Wahai calon suami ku, maafkan aku karna aku tidak seperti dulu, seperti apa mau mu :( 


Minggu, 02 Februari 2014

Nikah atau cuma kata "SAH"

Pernikahan itu adalah bertemunya 2 sejoli, Adam dan Hawa, Rama dan Shinta, Romeo dan Juliet, Lelaki dan Perempuan, dan banyak pertemuan pertemuan lainnya yang tidak bisa saya perjelaskan satu per satu yang saling mencintai, membutuhkan, mengasihi, yg dalam janjinya akan bersama saat suka maupun duka. Janji yanng di ikrar kan di depan penghulu, orang tua , sanak saudara dan rekan rekan. Janji sakral sebuah pernikahan yang entah dari mana  sisi nya bisa membuat siapapun yang mendengarkannya terharu biru dibuatnya. Sebenarnya apa alasan 2 pasang insan manusia memutuskan untuk menikah?? Keturunan? Kelengkapan hidup? Biar ga dibilang "gak laku"? Umur? Paksaan orangtua? Merasa sudah cocok dan untuk menghindari zina?? Apapun alasan seseorang berani memutuskan menikah dalam hidup nya adalah sebuah komitmen berat dan harus penuh rasa tanggung jawab menjalankannya. Mereka berfikir dengan menikah hidup akan lebih bahagia,punya teman suka dan duka,punya teman pengusir sepi dan rindu atau malah cuma karna ingin punya teman berbagi tempat tidur?

Well, apapun itu hal yang terlewat manis di janjikan di awal belum tentu akhirnya berjalan semanis skenario kita. Hidup memang pilihan. Memilih untuk tidak menikah juga itu adalah sebuah pilihan!! Tapi balik lagi kepada takdir tuhan. Allah maha tau aapa yg terbaik untuk umatnya.
 
Sejatinya sebuah pernikahan adalah cikal bakal proses pengabdian seorang istri pada suaminya. Patuh dan taat itu sudah menjadi kodratnya. Mau kemana-mana izin suami, tanya suami. Begitu juga suami, sudah harus menafkahi istri dan anak-anaknya, tanggung jawab lebih banyak. Karna perlu anda ketahui, lelaki lah tiangnya keluarga. Di pundak dan langkah lelaki lah kemana keluarga itu dan bagaimana keluarga itu berdiri. 

-•-
Disini lah aku malam ini, memikirkan tentang jalan hidupku. Sebuah pernikahan di depan mata yang aku sendiri yang memilihnya. Bukan hatinya, tapi jiwanya. Hati dan kedalamnya hatiku bukan dia perebutnya. Aku bersandar pada tembok kamar yang dingin juga lembab. Bercerita tentang galau nya aku pada setiap jengkal dinding kamar kecilku. Menulis, mencoret, tertawa, menangis lalu tertawa lagi seperti orang hilang kendali. Aku akan menikah. Bahagiakah aku??

-•- 
Layaknya orang yang ingin menikah harusnya bersuka cita, tapi tidak bagiku. Aku menikah karna keadaan, aku menikah karna memang sudah waktunya aku menikah. Apa mempelaiku bisa dikatakan itu jodohku?? Jodoh yang katanya temanku cocok untuk ku, mengerti ku, menyayangku, mencintaku. Apa aku tau?? Atau aku yang acuh dan tidak mau tau? 
Iya, mempelaiku. Elok rupa nya, tutur bahasanya, cermat sikapnya, halus hatinya. Cukup kah itu bagiku? Bagian mana yang ku dustakan? 
Taapi apa ada yang bertanya padaku, "Merasakah aku"?? Merasakah aku itu semua apa yang kusebutkan tadi?? 

-•- 
Bibir ku kelu, terkata iya terkata tidak!! Sekali lagi haruskah ku pertegas arti pernikahan kita?? Aku dan kamu hanya menikah dengan jiwa. Aku tetap hadir menemanimu di malam malam lelahmu. Aku merapihkan bajumu, aku menyiapkan makanmu, aku menjalani hariku melayani mu. Ya melayani jiwamu. Jangan pernah kau hatap hati ku. Hatiku sudah terkekang puluhan tahun lamanya. Hatiku mati rasa. Hatiku tak mau ada conta. Hatiku tak ingin merasakan apa apa. Aku, yang hatinya sudah direnggut ksatria ber-Kharisma, seorang Patih Majapahit, seorang cucu Adam. Hatiku melayang meninggalkan si empunya. Akupun tak tahu kemana perginya..

Duhai suami, inilah Jiwa ku.. Hanya Jiwaku.. Menikahlah dengan aapa adanya jiwaku..